KontanKontan

Leyand International (LAPD) Gelar Rights Issue, Inbreng 87,5% Saham Jasa Tambang

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Leyand International Tbk (LAPD) menyiapkan aksi penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) II atau rights issue. Melalui aksi korporasi ini, Leyand akan mengakuisisi 87,5% saham PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS) melalui penyertaan modal non-tunai atau inbreng.

Mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (5/11/2026), Leyand berencana menerbitkan maksimal 1,98 miliar saham baru Seri B dengan nilai nominal Rp 25 per saham. Harga pelaksanaan HMETD ditetapkan sebesar Rp 30 per saham.

Dengan rasio 2:1, setiap pemegang dua saham lama LAPD berhak memperoleh satu HMETD. Setiap satu HMETD dapat digunakan untuk membeli satu saham baru.

Rencana rights issue II tersebut telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 29 Oktober 2026. Adapun perkiraan tanggal efektif pernyataan pendaftaran kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah 28 Desember 2026.

Dalam aksi ini, PT JSI Sinergi Mas bertindak sebagai pembeli siaga untuk mengambil sebanyak-banyaknya 283,61 juta saham baru. Pembayaran saham tersebut dilakukan melalui penyetoran aset non-tunai berupa sisa saham inbreng.

Leyand menyebut aksi korporasi ini akan memperluas kegiatan usaha perusahaan ke sektor jasa pertambangan. Melalui penyertaan 87,5% saham BSS, perusahaan tersebut akan menjadi anak usaha Leyand dan diharapkan memberikan sumber pendapatan serta arus kas operasional baru dari kontrak pertambangan yang sedang berjalan.

Selain melalui inbreng, Leyand berencana memperoleh dana tunai maksimal Rp 20,64 miliar dari rights issue II. Dana tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja BSS.

Berdasarkan proforma laporan keuangan per 30 Juni 2026, transaksi ini diperkirakan memperbaiki kondisi keuangan Leyand. Total ekuitas yang sebelumnya negatif Rp 2,65 miliar diproyeksikan menjadi positif Rp 56,95 miliar.

Pendapatan perusahaan juga diperkirakan meningkat dari Rp 1,92 miliar menjadi Rp 22,50 miliar. Sementara itu, margin laba bruto diproyeksikan membaik dari negatif 54,90% menjadi positif 22,65%.

Dengan perbaikan tersebut, Leyand berharap risiko kelangsungan usaha perusahaan dapat berkurang. Namun, pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD berpotensi mengalami dilusi kepemilikan maksimal 33,33%.

اقرأ المقال كاملًا
احصل على وصول غير محدود إلى مقالات Kontan وجميع مصادر الأخبار الأخرى على TradingView.