KontanKontan

Kinerja Emiten Ritel Dibayangi Pelemahan Daya Beli, Cermati Saham Rekomendasi Analis

Sejumlah emiten sektor ritel berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih sepanjang Januari-September 2026.

Namun, kinerja positif tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan daya beli masyarakat yang masih menjadi tantangan bagi industri ritel.

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mencatatkan pertumbuhan pendapatan 22,16% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 63,97 triliun hingga kuartal III-2026. Laba bersihnya tumbuh lebih tinggi, yakni 38,5% yoy menjadi Rp 1,08 triliun.

Kinerja positif juga dibukukan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pengelola jaringan minimarket Alfamart. Pendapatan AMRT meningkat 7,21% yoy menjadi Rp 101 triliun, sedangkan laba bersihnya naik 3,79% yoy menjadi Rp 2,4 triliun.

Dari segmen fesyen dan gaya hidup, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) membukukan pendapatan Rp 37,43 triliun atau tumbuh 24,51% yoy. Laba bersihnya meningkat 25,16% yoy menjadi Rp 1,72 triliun.

MAPI

Sementara itu, PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) mencatatkan pendapatan Rp 16,43 triliun, naik 17,84% yoy. Laba bersih MAPA juga tumbuh 24,14% yoy menjadi Rp 1,44 triliun.

Pertumbuhan tersebut turut tercermin dari penjualan di gerai yang sama atau same store sales growth (SSSG). Hingga kuartal III-2026, SSSG ERAA tercatat 1,4%, ERAL 9,2%, ACES 2,4%, MAPI 7,6%, MAPA 5,3%, dan MIDI 4,2%.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai, pertumbuhan kinerja emiten ritel ditopang ekspansi gerai, diversifikasi produk, strategi omnichannel, serta pengelolaan persediaan dan efisiensi operasional.

Menurut dia, salah satu hal yang menarik adalah pertumbuhan laba sejumlah emiten lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatannya. Kondisi ini menunjukkan adanya perbaikan profitabilitas dan efisiensi bisnis.

Sebagai contoh, laba bersih ERAA tumbuh 38,5%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan sebesar 22,16%. Hal serupa terlihat pada ERAL yang membukukan kenaikan laba bersih 55,08%, melampaui pertumbuhan pendapatan sebesar 44,76%.

"Ini menunjukkan adanya perbaikan profitabilitas dan efisiensi bisnis," ujar Alrich.Daya beli masih membayangi

Meski kinerja keuangan emiten ritel tumbuh positif, pelemahan daya beli masyarakat masih menjadi tantangan. Survei Bank Indonesia (BI) memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) September 2026 hanya tumbuh 1,4% yoy.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kinerja emiten ritel belum tentu mencerminkan pemulihan konsumsi masyarakat secara merata.

Alrich menjelaskan, karakteristik bisnis masing-masing emiten membuat dampak pelemahan daya beli tidak sama. Peritel kebutuhan sehari-hari seperti AMRT dan MIDI cenderung lebih defensif karena menjual produk yang dibutuhkan secara rutin.

Sebaliknya, emiten ritel di segmen discretionary seperti MAPI, MAPA, ACES, dan ERAA lebih bergantung pada kondisi daya beli konsumen serta momentum peluncuran produk baru.

Senada, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, pelemahan daya beli masih menjadi tantangan, terutama di kalangan konsumen menengah bawah. Namun, pengaruhnya terhadap setiap emiten berbeda, bergantung pada karakteristik konsumen dan produk yang dijual.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Elandry menyarankan investor mencermati saham AMRT, MIDI, MAPA, ERAA, dan ACES.

Ia memberikan target harga indikatif AMRT sebesar Rp 2.125 per saham, MIDI Rp 496 per saham, MAPA Rp 870 per saham, ERAA Rp 630 per saham, dan ACES Rp 480 per saham.

Ler o artigo completo
Tenha acesso ilimitado aos artigos da Kontan e de todas as outras fontes de notícias no TradingView.