KontanKontan

Saham Big Banks Kompak Menguat, Rebalancing IHSG Jadi Katalis?

Saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks kompak mencatatkan penguatan pada perdagangan Kamis (5/11/2026).

Penguatan ini terjadi di tengah rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta perubahan komposisi bobot saham setelah penyesuaian indeks.

Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) memimpin penguatan saham big banks dengan naik 4,73% ke level Rp 3.320 per saham dari harga pembukaan Rp 3.250 per saham. Secara mingguan, saham BBNI tercatat menguat 2,47%.

Selanjutnya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan kenaikan 3,96% ke level Rp 5.125 per saham. Saham BBCA dibuka pada level Rp 5.050 per saham. Dalam sepekan terakhir, saham bank swasta terbesar di Indonesia ini juga menguat 3,74%.

Sementara itu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat tipis 0,28% ke level Rp 3.610 per saham. Meski demikian, secara mingguan saham BMRI masih terkoreksi 2,96%.

Adapun saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 0,74% ke level Rp 2.710 per saham. Namun, dalam sepekan terakhir saham BBRI masih mencatatkan penurunan 3,56%.

Penguatan saham perbankan ini sejalan dengan pergerakan IHSG yang ditutup naik 2,25% atau bertambah 110,49 poin ke level 5.030,26 pada perdagangan Kamis (5/11/2026).

Di sisi lain, perubahan komposisi saham pasca pengecualian saham dengan status High Shareholding Concentration (HSC) turut mengubah kontributor pergerakan IHSG.

BEI tetap menggunakan metode Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted dengan batas maksimal bobot saham sebesar 9%.

BBNI

Dalam komposisi terbaru, saham BBCA dan BBRI masing-masing memiliki bobot 9%, menjadikannya saham dengan kontribusi terbesar terhadap indeks pasca penyesuaian.

Bobot saham BMRI juga meningkat dari sebelumnya 5,9% menjadi 7,4%. Sementara itu, bobot saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik dari 3,6% menjadi 4,6%.

Dengan demikian, bobot gabungan tiga bank besar, yakni BBCA, BBRI, dan BMRI, mencapai sekitar 25%. Kondisi ini membuat pergerakan saham perbankan berpotensi semakin memengaruhi arah IHSG.

Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan, penguatan saham perbankan terutama didorong oleh technical rebound setelah mengalami koreksi cukup dalam.

Selain itu, valuasi saham perbankan yang semakin atraktif turut menjadi daya tarik bagi investor. Hal ini didukung oleh fundamental perbankan yang relatif solid, tercermin dari pertumbuhan laba sembilan bulan pertama 2026 (9M26) sejumlah bank besar yang masih positif.

"Pertumbuhan kredit yang kuat dan kualitas aset relatif terjaga juga menjadi faktor pendukung," ujarnya kepada kontan.co.id, Kamis (5/11/2026).

Andrey menambahkan, perubahan komposisi IHSG setelah pengecualian saham HSC berpotensi mendorong redistribusi dana ke saham-saham perbankan berkapitalisasi besar dan memiliki likuiditas tinggi.

Adapun terkait pergerakan investor asing, Andrey menyebut terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi keputusan investasi di sektor perbankan, yakni valuasi, prospek pertumbuhan laba, serta kondisi makroekonomi, khususnya nilai tukar rupiah dan arah suku bunga.

Menurutnya, saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI masih menjadi perhatian investor institusi asing karena memiliki likuiditas tinggi dan fundamental yang relatif kuat.

Namun, tekanan terhadap rupiah, kenaikan imbal hasil obligasi, serta ketidakpastian terkait kebijakan MSCI masih menjadi faktor yang membatasi arus dana asing masuk secara berkelanjutan.

Dia menilai, aksi jual investor asing di saham perbankan saat ini lebih mencerminkan penyesuaian portofolio dan pengurangan eksposur terhadap risiko Indonesia dibandingkan perubahan prospek fundamental sektor perbankan secara menyeluruh.

"Risiko nilai tukar, suku bunga, dan potensi perubahan klasifikasi MSCI menjadi pertimbangan utama investor asing," jelasnya.

Meski demikian, fundamental perbankan yang relatif solid membuat tekanan jual tersebut berpotensi membuka peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.

Untuk prospek ke depan, RHB Sekuritas mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor perbankan.

Kendati pergerakan saham dalam jangka pendek masih berpotensi volatil akibat tekanan rupiah dan ketidakpastian arus dana asing, valuasi yang semakin menarik serta pertumbuhan kredit dinilai dapat menopang pemulihan dalam jangka menengah.

Andrey menyebut BBCA, BBRI, dan BMRI sebagai saham pilihan di sektor perbankan yang berpotensi kembali menarik minat investor asing.

RHB Sekuritas merekomendasikan buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp 6.050 per saham dan BMRI dengan target harga Rp 4.730 per saham. Adapun BBRI juga masuk dalam daftar saham pilihan perseroan di sektor perbankan.

Menurut Andrey, katalis utama pemulihan saham perbankan ke depan adalah stabilisasi nilai tukar rupiah, meredanya tekanan arus keluar dana asing, serta meningkatnya kepastian terkait kebijakan MSCI dan reformasi pasar modal Indonesia.

Ler o artigo completo
Tenha acesso ilimitado aos artigos da Kontan e de todas as outras fontes de notícias no TradingView.