KontanKontan

Kinerja Berpeluang Tumbuh Hingga Akhir 2026, Cermati Rekomendasi Saham CMRY

PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) diproyeksikan masih mampu menjaga pertumbuhan kinerja hingga akhir 2026.

Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta meningkatnya konsumsi produk kebutuhan sehari-hari menjadi penopang penjualan. Namun, kenaikan biaya bahan baku dan beban pemasaran berpotensi menahan pertumbuhan laba perseroan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, prospek CMRY hingga akhir 2026 dan memasuki 2027 masih positif, meski pertumbuhannya cenderung moderat.

Selain momentum Nataru 2026/2027, permintaan juga berpeluang meningkat menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2027. Perluasan jaringan distribusi ke kota-kota tier-2 dan tier-3 turut membuka peluang peningkatan efisiensi penjualan.

Prospek tersebut ditopang kinerja penjualan yang masih tumbuh kuat. Hingga 30 September 2026, CMRY membukukan pendapatan Rp 9,92 triliun, meningkat 26,12% secara tahunan (yoy).

Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum diikuti kenaikan laba bersih yang sepadan. Laba bersih CMRY hanya tumbuh 7,28% yoy menjadi Rp 1,71 triliun hingga kuartal III-2026.

Nafan mengatakan, perlambatan pertumbuhan laba tersebut menunjukkan adanya tekanan terhadap profitabilitas perseroan.

"Ketidakselarasan ini terutama disebabkan oleh tekanan margin profitabilitas," kata Nafan, Selasa (3/11/2026).

Tekanan margin berasal dari kenaikan biaya bahan baku impor, seperti susu segar, skimmed milk powder, dan bahan kemasan. Pelemahan nilai tukar rupiah turut meningkatkan biaya pengadaan bahan baku tersebut.

Di sisi lain, CMRY juga mengalokasikan anggaran cukup besar untuk pemasaran, promosi merek, dan perluasan saluran distribusi, termasuk melalui Miss Cimory dan modern trade.

CMRY

Kondisi ini tercermin dari beban pokok penjualan yang melonjak 31,86% yoy menjadi Rp 5,66 triliun hingga September 2026.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai, pertumbuhan laba CMRY masih menghadapi tantangan hingga akhir tahun, terutama jika harga bahan baku belum mengalami normalisasi.

Meski demikian, peluang pemulihan margin terbuka pada 2027 apabila daya beli masyarakat membaik dan efisiensi operasional meningkat.

Dari sisi pasar saham, Nafan melihat kekuatan merek Cimory dan Kanzler, inovasi produk, serta kondisi neraca dengan tingkat utang rendah menjadi penopang prospek CMRY.

Sebaliknya, investor perlu mencermati volatilitas harga komoditas susu dunia, pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya impor, serta persaingan dengan produsen produk kebutuhan sehari-hari lainnya.

Dengan mempertimbangkan berbagai katalis tersebut, Nafan merekomendasikan beli saham CMRY dengan target harga Rp 4.810 per saham.

Lire l'article complet
Obtenez un accès illimité aux articles de Kontan et à toutes les autres sources d'actualités sur TradingView.