TEKANAN BEARISH DARI SEGALA ARAH, KEMANA ARAH IHSG SELANJUTNYA?

Keynotes: IHSG sedang berada dalam tekanan bearish luar biasa mulai dari masalah MSCI, kemudian dihajar lagi konflik Iran vs Israel dan US serta tentu saja libur panjang Idul Fitri 1447 H, walaupun sepele tapi libur panjang ditengah ketidakpastian global tentu saja menimbulkan gelombang "cashout" sehingga market mejadi lesu. Jujur saya merasa sangat sedih karena pada akhir 2025 jumlah investor ritel meningkat 37% menyentuh 20 juta investor pasar modal, sekitar 7% dari total penduduk Indonesia. Melihat penurunan IHSG yang ekstrim tentu rata-rata dari mereka sudah pasti mengalami capital loss, secara tidak langsung tentu ini bisa sangat mempengaruhi ekonomi Indonesia.
KEMANA ARAH IHSG KEDEPAN?
Secara teknikal IHSG masih dalam fase bearish yang kuat namun posisinya saat ini sudah berada didekat area yang berpotensi menjadi area demand yang kuat, karena area tersebut selain merupakan level fibonacci 0.786 dari pergerakan swing sebelumnya juga pernah menjadi area demand yang kuat selama 2 tahun, tahun 2021-2023. Secara teori seharusnya IHSG masih berpotensi turun ke area 6600-6800, setelah itu bagaimana? Karena area 6600-6800 itu merupakan area demand kuat yang sudah teruji, kita harus lihat terlebih dahulu apakah ada perlawanan diarea itu, misal harga mulai tertahan atau harga mulai bergerak sideways. Tapi disamping itu, meskipun tidak ada tanda perlawanan area tersebut, area itu masih sangat menarik buat spekulasi karena artinya IHSG sudah terkoreksi 28% dari ATH, sangat menarik buat spekulasi di saham yang sudah mengalami penurunan ekstrim.

Secara volume, investor asing sudah sell off sebesar 22 triliun secara year to date namun pada 16/03/26 investor asing tercatat netbuy 178 miliar, outflow asing ini tentu saja salah satu efek dari review MSCI, konflik timur tengah dan pelemahan Rupiah.
BAGAIMANA DENGAN KONFLIK IRAN VS ISRAEL DAN AMERIKA?
Konflik Iran-Israel dan Amerika berada dalam fase yang sangat kritis karena bukan lagi sekedar proxy war, konfrontasi langsung yang terjadi berisiko merusak stabilitas Timur Tengah dan ekonomi global secara signifikan di masa depan. Secara ekonomi salah satu hal yang paling berdampak tentunya karena simpang siur soal selat Hormus, 20% supply minyak global melewati selat ini, sedangkan untuk Indonesia sekitar 25% supply minyak Nasional melewati selat Hormus walaupun tanker Pertamina beberapa sudah bisa melintas namun kenaikan harga minyak mentah yang menembus level $100 per barel tentu akan memberi dampak yang besar kedepannya.
BAGAIMANA DENGAN MASALAH MSCI?
Masalah MSCI dimulai pada awal 2026 akibat pembekuan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOOS) oleh MSCI, yang memicu sentimen negatif serta outflow investor asing yang akhirnya membuat IHSG 2x mengalami trading halt, buat saya ini penurunan yang sangat ekstrim semenjak COVID-19. Tapi setelah itu, otoritas OJK dan BEI merespon dengan perbaikan tata kelola, transparansi data, dan aturan free float untuk memulihkan kepercayaan investor. Langkah OJK dan BEI terhitung ekstrim karena sampai ada beberapa sekuritas yang dibekukan karena terindikasi melakukan manipulasi tapi tentu ini tanda keseriusan otoritas untuk memperbaiki pasar saham.
Evaluasi berkala MSCI dilakukan dua kali setahun (Mei dan November) untuk rebalancing penuh, sementara peninjauan kuartalan (rebalancing ringan) dilakukan pada Februari dan Agustus. Evaluasi selanjutnya dijadwalkan pada Mei 2026, pengumuman hasil evaluasi (rebalancing) akan dirilis pada 12 Mei 2026 dan perubahan tersebut akan berlaku efektif per 1 Juni 2026. Tapi tunggu, Indonesia masih bisa terancam turun kelas dari Emerging Market menjadi Frontier Market pada Mei 2026 jika evaluasi masalah transparansi dan free float saham belum sepenuhnya efektif. Penurunan dari Emerging Market menjadi Frontier Market ini tentu berisiko menyebabkan capital outflow besar-besaran karena rebalancing dana asing. Meskipun ancaman ada tapi 80-90% kemungkinan Indonesia tetap bertahan di Emerging Market melihat keseriusan otoritas melakukan perbaikan masalah transparansi dan free float tapi ada baiknya mulai terapkan manajemen resiko yang ketat mendekati evaluasi MSCI, better late than sorry.
GAWAT RUPIAH SUDAH MENYENTUH 17 RIBU!
Pelemahan Indonesian Rupiah yang mendekati 17.000 per USD terhadap US Dollar tentu menambah tekanan bagi IHSG. Secara historis pelemahan rupiah sering diikuti foreign outflow, karena bagi investor asing depresiasi mata uang berarti tambahan risiko terhadap return mereka.
Kemudian rupiah yang melemah juga meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi, yang berpotensi menekan beberapa sektor domestik. Namun kondisi ini tidak sepenuhnya negatif karena sektor berbasis ekspor dan komoditas justru bisa diuntungkan dari pendapatan USD yang lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.
Singkatnya, pelemahan rupiah ke area 17.000 berpotensi membuat IHSG bergerak lebih volatil, terutama ditengah ketidakpastian global saat ini.
KESIMPULAN
Rentetan masalah internal dan eksternal membuat IHSG menjadi sangat tertekan, namun IHSG sudah mulai mendekati area yang seharusnya bisa menjadi titik balik IHSG atau minimal bisa membuat laju penurunan mulai melambat bahkan berhenti. Tanpa mengkesampingkan masalah konflik Iran vs Israel dan Amerika yang mungkin bisa semakin memanas, seharusnya 6600-6800 bisa menjadi area penentu buat IHSG kedepannya untuk detailnya kamu bisa kembali baca penjelasan secara teknikal diatas.
Terimakasih sudah membaca tulisan saya ini. Apapun yang terjadi kalau kalian tetap menerapkan manajemen resiko yang baik seharusnya kalian akan tetap aman ditengah ketidakpastian politik dan ekonomi yang terjadi di Bumi ini, stay safe!
KEMANA ARAH IHSG KEDEPAN?
Secara teknikal IHSG masih dalam fase bearish yang kuat namun posisinya saat ini sudah berada didekat area yang berpotensi menjadi area demand yang kuat, karena area tersebut selain merupakan level fibonacci 0.786 dari pergerakan swing sebelumnya juga pernah menjadi area demand yang kuat selama 2 tahun, tahun 2021-2023. Secara teori seharusnya IHSG masih berpotensi turun ke area 6600-6800, setelah itu bagaimana? Karena area 6600-6800 itu merupakan area demand kuat yang sudah teruji, kita harus lihat terlebih dahulu apakah ada perlawanan diarea itu, misal harga mulai tertahan atau harga mulai bergerak sideways. Tapi disamping itu, meskipun tidak ada tanda perlawanan area tersebut, area itu masih sangat menarik buat spekulasi karena artinya IHSG sudah terkoreksi 28% dari ATH, sangat menarik buat spekulasi di saham yang sudah mengalami penurunan ekstrim.
Secara volume, investor asing sudah sell off sebesar 22 triliun secara year to date namun pada 16/03/26 investor asing tercatat netbuy 178 miliar, outflow asing ini tentu saja salah satu efek dari review MSCI, konflik timur tengah dan pelemahan Rupiah.
BAGAIMANA DENGAN KONFLIK IRAN VS ISRAEL DAN AMERIKA?
Konflik Iran-Israel dan Amerika berada dalam fase yang sangat kritis karena bukan lagi sekedar proxy war, konfrontasi langsung yang terjadi berisiko merusak stabilitas Timur Tengah dan ekonomi global secara signifikan di masa depan. Secara ekonomi salah satu hal yang paling berdampak tentunya karena simpang siur soal selat Hormus, 20% supply minyak global melewati selat ini, sedangkan untuk Indonesia sekitar 25% supply minyak Nasional melewati selat Hormus walaupun tanker Pertamina beberapa sudah bisa melintas namun kenaikan harga minyak mentah yang menembus level $100 per barel tentu akan memberi dampak yang besar kedepannya.
BAGAIMANA DENGAN MASALAH MSCI?
Masalah MSCI dimulai pada awal 2026 akibat pembekuan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOOS) oleh MSCI, yang memicu sentimen negatif serta outflow investor asing yang akhirnya membuat IHSG 2x mengalami trading halt, buat saya ini penurunan yang sangat ekstrim semenjak COVID-19. Tapi setelah itu, otoritas OJK dan BEI merespon dengan perbaikan tata kelola, transparansi data, dan aturan free float untuk memulihkan kepercayaan investor. Langkah OJK dan BEI terhitung ekstrim karena sampai ada beberapa sekuritas yang dibekukan karena terindikasi melakukan manipulasi tapi tentu ini tanda keseriusan otoritas untuk memperbaiki pasar saham.
Evaluasi berkala MSCI dilakukan dua kali setahun (Mei dan November) untuk rebalancing penuh, sementara peninjauan kuartalan (rebalancing ringan) dilakukan pada Februari dan Agustus. Evaluasi selanjutnya dijadwalkan pada Mei 2026, pengumuman hasil evaluasi (rebalancing) akan dirilis pada 12 Mei 2026 dan perubahan tersebut akan berlaku efektif per 1 Juni 2026. Tapi tunggu, Indonesia masih bisa terancam turun kelas dari Emerging Market menjadi Frontier Market pada Mei 2026 jika evaluasi masalah transparansi dan free float saham belum sepenuhnya efektif. Penurunan dari Emerging Market menjadi Frontier Market ini tentu berisiko menyebabkan capital outflow besar-besaran karena rebalancing dana asing. Meskipun ancaman ada tapi 80-90% kemungkinan Indonesia tetap bertahan di Emerging Market melihat keseriusan otoritas melakukan perbaikan masalah transparansi dan free float tapi ada baiknya mulai terapkan manajemen resiko yang ketat mendekati evaluasi MSCI, better late than sorry.
GAWAT RUPIAH SUDAH MENYENTUH 17 RIBU!
Pelemahan Indonesian Rupiah yang mendekati 17.000 per USD terhadap US Dollar tentu menambah tekanan bagi IHSG. Secara historis pelemahan rupiah sering diikuti foreign outflow, karena bagi investor asing depresiasi mata uang berarti tambahan risiko terhadap return mereka.
Kemudian rupiah yang melemah juga meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi, yang berpotensi menekan beberapa sektor domestik. Namun kondisi ini tidak sepenuhnya negatif karena sektor berbasis ekspor dan komoditas justru bisa diuntungkan dari pendapatan USD yang lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.
Singkatnya, pelemahan rupiah ke area 17.000 berpotensi membuat IHSG bergerak lebih volatil, terutama ditengah ketidakpastian global saat ini.
KESIMPULAN
Rentetan masalah internal dan eksternal membuat IHSG menjadi sangat tertekan, namun IHSG sudah mulai mendekati area yang seharusnya bisa menjadi titik balik IHSG atau minimal bisa membuat laju penurunan mulai melambat bahkan berhenti. Tanpa mengkesampingkan masalah konflik Iran vs Israel dan Amerika yang mungkin bisa semakin memanas, seharusnya 6600-6800 bisa menjadi area penentu buat IHSG kedepannya untuk detailnya kamu bisa kembali baca penjelasan secara teknikal diatas.
Terimakasih sudah membaca tulisan saya ini. Apapun yang terjadi kalau kalian tetap menerapkan manajemen resiko yang baik seharusnya kalian akan tetap aman ditengah ketidakpastian politik dan ekonomi yang terjadi di Bumi ini, stay safe!
Pernyataan Penyangkalan
Informasi dan publikasi ini tidak dimaksudkan, dan bukan merupakan, saran atau rekomendasi keuangan, investasi, trading, atau jenis lainnya yang diberikan atau didukung oleh TradingView. Baca selengkapnya di Ketentuan Penggunaan.
Pernyataan Penyangkalan
Informasi dan publikasi ini tidak dimaksudkan, dan bukan merupakan, saran atau rekomendasi keuangan, investasi, trading, atau jenis lainnya yang diberikan atau didukung oleh TradingView. Baca selengkapnya di Ketentuan Penggunaan.