TRICK : IMPC Mengakhiri Technical Correction

191
TRICK : T.R.A.I.L Stock Pick 260218

IMPC mengakhiri penurunan dari Rp4,200 di Rp1,800 atau tepat di Fibonacci Retracement 61.8%.

Ada potensi IMPC kembali Uptrend namun harus Breakout Resistance kuat dari grap di rentang Rp2,800 - Rp3,470.

Ancaman kembali Downtrend menuju Rp1,200 selalu ada dan ditandai dengan Breakdown Support di Rp1,800 atau tidak mampu Breakout Rp3,470.

Meski IMPC berada di Bawah SMA60, RSI sudah Oversold dan ada kecenderungan untuk mengakhiri Downtrend.

Stochastic Oscillator mengindikasikan penurunan yang seharusnya menjadi Double Bottom (Rebound di level Rp1,800an) atau Failure Swing (Rebound di atas Rp1,800 - membentuk Higher Low).

cuplikan

Berikut menurut A.R.I.S :

Drivers of Growth
  • Ekspansi Kapasitas Produksi: Perusahaan berencana menggandakan kapasitas atap uPVC "Alderon" di Kawasan Industri Batang untuk memenuhi lonjakan permintaan di Jawa Tengah dan Timur. Pendapatan segmen Roofing diproyeksikan tumbuh dari Rp2,5 triliun pada FY24 menjadi Rp3,6 triliun - Rp4,8 triliun pada periode FY25F–27F.
  • Pertumbuhan Pendapatan Agresif: Pendapatan grup diproyeksikan meningkat dengan CAGR 3-tahun sebesar 14,2%, mencapai Rp4,4 triliun pada FY25F hingga Rp5,8 triliun pada 2027F. Hal ini didorong oleh kapasitas baru dan kontribusi yang lebih besar dari segmen perdagangan melalui Mulford Australia.
  • Inovasi Ekonomi Sirkular (Green Vision): IMPC memanfaatkan limbah plastik yang sulit didaur ulang menjadi material bangunan berkualitas tinggi. Pada 2024, perusahaan telah mengolah 9.420 ton limbah daur ulang (11,4% dari total konsumsi material) untuk produk ramah lingkungan seperti Decobond, Ecolite, dan Alderon TE.
  • Struktur Keuangan Sehat: IMPC secara konsisten melakukan deleveraging, di mana total utang turun menjadi Rp862 miliar dengan gearing ratio membaik signifikan menjadi 0,3x pada 9M25 (dibandingkan 0,7x pada 9M24).


Risiko
  • Ketergantungan Bahan Baku Impor: Perusahaan memiliki kelemahan struktural karena sangat bergantung pada bahan baku impor, sehingga rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
  • Risiko Nilai Tukar: Pergerakan nilai tukar USD/IDR menjadi faktor risiko utama bagi margin laba karena eksposur biaya input dalam mata uang asing.
  • Kondisi Geopolitik: Ketegangan geopolitik yang meningkat dapat mengganggu rantai pasok global dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
  • Pertumbuhan Laba di Bawah Estimasi: Risiko operasional jika realisasi pertumbuhan laba bersih tidak mencapai target CAGR 15% yang diproyeksikan.


--
Perhatian!

Kami tidak memantau perkembangan pergerakan aset ini sehingga kami sangat mungkin akan telat untuk Menutup Posisi. Kami memang tidak memberikan rekomendasi. Apa yang kami sampaikan adalah analisis serta kontrol internal dan bukan ditulis untuk diikuti.

Pernyataan Penyangkalan

Informasi dan publikasi ini tidak dimaksudkan, dan bukan merupakan, saran atau rekomendasi keuangan, investasi, trading, atau jenis lainnya yang diberikan atau didukung oleh TradingView. Baca selengkapnya di Ketentuan Penggunaan.