Data Makro Awal Juni 2026 : Masalah Struktural Ekonomi Indonesia Mencuat
SRIUS : Strategi Investasi Untuk Semua 260604
Neraca Perdagangan Indonesia (kiri bawah) bulan April 2026 mengalami penurunan drastis dari USD3.32 miliar di Maret 2026 menjadi hanya USD89 juta. Penurunan selisih antara Ekspor dengan Impor adalah karena Impor Indonesia naik menjadi USD25.2 miliar (30% MoM atau dibandingkan bulan Maret 2026 sebesar USD19.2 miliar) sementara Ekspor naik menjadi USD25.3 miliar (hanya naik 1.6% dari Maret 2026).
Perlemahan Rupiah dapat diharapkan meningkatkan Ekspor karena barang dalam Rupiah dinilai lebih murah namun ternyata Ekspor hanya naik 1.6% MoM. Sementara itu, Impor yang tinggi mengindikasikan aktifitas yang juga tinggi namun menjadi persepsi negatif karena (masih banyak) aktifitas di perekonomian Indonesia yang masih Import Oriented.
Di satu sisi, Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI 7DRR Rate sebesar 0.5% sekaligus dalam Rapat Dewan Gubernur bulan Mei 2026 dari 4.75% menjadi 5.25%. Namun di awal Juni 2026, Inflasi bulan Mei 2026 naik lebih tinggi sebesar 3.08% YoY (dibandingkan bulan April 2026 sebesar 2.42% YoY). Kenaikan Headline Inflation masih dapat dianggap Seasonal namun ternyata Inflasi Inti pun naik dari 2.44% YoY di bulan April 2026 menjadi 2.59% YoY di bulan Mei 2026.
Investor melihat Inflasi secara nyata naik disaat suku bunga juga naik. Investor sempat memiliki persepsi bahwa BI hanya akan sementara saja menaikkan suku bunga untuk menjaga Rupiah. Namun jika Inflasi ternyata terus naik, bukan tidak mungkin BI 7DRR Rate stay higher for longer. Berbicara Rupiah, kenaikan BI 7DRR Rate sebesar 0.5% tidak terbukti menahan perlemahan sehingga kali ini USDIDR menyentuh Rp17,900an.

Penurunan
COMPOSITE masih kembali terjadi dan membentuk Lower Low dari Lowest 2025. Sementara itu, sejak 2008, IHSG tidak membentuk Lower Low, kecuali Black Swan di tahun 2020. Oleh karena itu, kami mengkhawatirkan Uptrend Jangka (Sangat) Panjang dari IHSG berakhir di bulan ini.

USDIDR masih berpeluang naik sampai target Fibonacci Projection di Rp18,000. Dengan perlemahan yang “stabil” (0.11% per hari dalam 40 Trading Day terakhir), sebelum pertengahan Juni 2026, Rupiah sudah di level Rp18,000, suatu angka yang menurut kami sangat mengkhawatirkan.
Aset pasar modal di Indonesia yang masih “aman” adalah Yield Indonesia 10Yr (
ID10Y ) yang masih stay di level 6.7%. Namun dari anotasi chart di atas, kami melihat potensi pembentukan Bullish Continuation (Ascending Triangle?) pada Yield sehingga ada ancaman Yield melanjutkan kenaikan dari sejak Oktober 2025 di 5.9% menuju 7.3% - setelah Breakout Resistance di 6.9%. Secara teori, kenaikan suku bunga acuan pasti akan menaikkan Yield. Menurut kami, akan sangat mudah bagi Yield Indonesia 10Yr untuk naik mengikuti BI 7DRR Rate.
SRIUS : Strategi Investasi Untuk Semua 260604
Neraca Perdagangan Indonesia (kiri bawah) bulan April 2026 mengalami penurunan drastis dari USD3.32 miliar di Maret 2026 menjadi hanya USD89 juta. Penurunan selisih antara Ekspor dengan Impor adalah karena Impor Indonesia naik menjadi USD25.2 miliar (30% MoM atau dibandingkan bulan Maret 2026 sebesar USD19.2 miliar) sementara Ekspor naik menjadi USD25.3 miliar (hanya naik 1.6% dari Maret 2026).
Perlemahan Rupiah dapat diharapkan meningkatkan Ekspor karena barang dalam Rupiah dinilai lebih murah namun ternyata Ekspor hanya naik 1.6% MoM. Sementara itu, Impor yang tinggi mengindikasikan aktifitas yang juga tinggi namun menjadi persepsi negatif karena (masih banyak) aktifitas di perekonomian Indonesia yang masih Import Oriented.
Di satu sisi, Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI 7DRR Rate sebesar 0.5% sekaligus dalam Rapat Dewan Gubernur bulan Mei 2026 dari 4.75% menjadi 5.25%. Namun di awal Juni 2026, Inflasi bulan Mei 2026 naik lebih tinggi sebesar 3.08% YoY (dibandingkan bulan April 2026 sebesar 2.42% YoY). Kenaikan Headline Inflation masih dapat dianggap Seasonal namun ternyata Inflasi Inti pun naik dari 2.44% YoY di bulan April 2026 menjadi 2.59% YoY di bulan Mei 2026.
Investor melihat Inflasi secara nyata naik disaat suku bunga juga naik. Investor sempat memiliki persepsi bahwa BI hanya akan sementara saja menaikkan suku bunga untuk menjaga Rupiah. Namun jika Inflasi ternyata terus naik, bukan tidak mungkin BI 7DRR Rate stay higher for longer. Berbicara Rupiah, kenaikan BI 7DRR Rate sebesar 0.5% tidak terbukti menahan perlemahan sehingga kali ini USDIDR menyentuh Rp17,900an.
Penurunan
Aset pasar modal di Indonesia yang masih “aman” adalah Yield Indonesia 10Yr (
CFTe with an award.
Trading System Designer at Alpha Market Lab Quantum. See our services and products at alphamarketlab.com/
Trading System Designer at Alpha Market Lab Quantum. See our services and products at alphamarketlab.com/
פרסומים קשורים
כתב ויתור
המידע והפרסומים אינם מיועדים להיות, ואינם מהווים, ייעוץ או המלצה פיננסית, השקעתית, מסחרית או מכל סוג אחר המסופקת או מאושרת על ידי TradingView. קרא עוד ב־תנאי השימוש.
CFTe with an award.
Trading System Designer at Alpha Market Lab Quantum. See our services and products at alphamarketlab.com/
Trading System Designer at Alpha Market Lab Quantum. See our services and products at alphamarketlab.com/
פרסומים קשורים
כתב ויתור
המידע והפרסומים אינם מיועדים להיות, ואינם מהווים, ייעוץ או המלצה פיננסית, השקעתית, מסחרית או מכל סוג אחר המסופקת או מאושרת על ידי TradingView. קרא עוד ב־תנאי השימוש.
