KontanKontan

Jababeka (KIJA) Bukukan Pendapatan Rp 4,25 Triliun hingga September 2026

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp 4,25 triliun hingga kuartal III-2026. Realisasi tersebut meningkat 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,67 triliun.

Mengutip siaran pers yang dirilis keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (4/11/2026), pertumbuhan pendapatan KIJA ditopang oleh dua pilar bisnis utama, yakni Land Development & Property serta Infrastructure.

Dari segmen Land Development & Property, KIJA mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1,91 triliun pada sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penguatan terutama terlihat pada kuartal III-2026 (Juli-September), dengan pendapatan mencapai Rp 939,9 miliar, hampir menyamai pendapatan yang dibukukan sepanjang semester I-2026 sebesar Rp 974,9 miliar.

Kontribusi terbesar berasal dari penjualan tanah matang yang mencapai Rp 1,62 triliun, meningkat dari Rp 1,43 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Penjualan tanah dan bangunan pabrik juga meningkat signifikan menjadi Rp 126 miliar dari sebelumnya Rp 32,2 miliar, atau tumbuh 291%. Sementara itu, penjualan tanah dan rumah naik 18% menjadi Rp 77,8 miliar.

Adapun pilar Infrastrukturmembukukan pendapatan sebesar Rp 2,24 triliun, meningkat 15% dibandingkan Rp 1,95 triliun pada kuartal III-2025.

Segmen ketenagalistrikan menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp 1,50 triliun, naik dari Rp 1,37 triliun. Kenaikan tersebut didukung oleh konsumsi listrik tenant di kawasan industri Kendal dan Cikarang.

Selanjutnya, segmen jasa dan pemeliharaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 33% menjadi Rp 525,6 miliar dari Rp 398,5 miliar.

Pertumbuhan ini didorong oleh tingginya aktivitas tenant di Kendal, peningkatan kontribusi unit usaha lainnya dalam subsegmen tersebut, serta kenaikan tarif dan volume layanan di Cikarang.

Sementara itu, pendapatan Cikarang Dry Port meningkat menjadi Rp 211,8 miliar dari Rp 174,6 miliar, terutama ditopang oleh kenaikan volume peti kemas yang ditangani.

Secara keseluruhan, pendapatan berulang atau recurring revenue dari pilar infrastrukturberkontribusi sebesar 53% terhadap total pendapatan KIJA.

Di luar kedua pilar tersebut, segmen Leisure & Hospitality mencatatkan pendapatan sebesar Rp 97,6 miliar. Bisnis golf menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 65% terhadap total pendapatan pilar ini, sekaligus mendukung diversifikasi sumber pendapatan perseroan.

Dari sisi profitabilitas, KIJA membukukan laba bruto sebesar Rp 1,57 triliun hingga September 2026, meningkat 7% dibandingkan Rp 1,47 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, margin laba bruto mengalami penurunan menjadi 37% dari sebelumnya 40%.

Penurunan margin tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya margin pada pilar Infrastruktur, khususnya segmen ketenagalistrikan yang dipengaruhi sejumlah faktor operasional.

KIJA

Laba bersih KIJA justru terkoreksi 38% secara tahunan menjadi Rp 391,7 miliar dari Rp 634,6 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.

Penurunan laba bersih tersebut terutama dipengaruhi oleh beban non-operasional yang bersifat tidak berulang (one-off) terkait langkah refinancing Senior Notes perseroan menjadi pinjaman bank dalam mata uang rupiah.

Beban tersebut meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif atau lindung nilai (hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat terkait Senior Notes yang jatuh tempo pada 2027.

Baca artikel penuh
Dapatkan akses tanpa had kepada artikel dari Kontan dan semua sumber berita di TradingView.