KontanKontan

Menilik Kontribusi Anak Usaha ke Kinerja Bank Besar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan anak masih memainkan peran yang cukup penting bagi sejumlah bank besar. Sebab, kemampuan anak usaha menghasilkan cuan turut menentukan arah kinerja grup perbankan.

Ambil contoh di Bank Mandiri. Hingga September 2026, bank berkode saham BMRI ini membukukan laba bersih secara konsolidasian sebesar Rp 45,53 triliun atau tumbuh 20,68% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Secara khusus, total laba bersih anak usahanya mencapai Rp 3,07 triliun atau naik 6,55% yoy. Dari situ, total laba yang diperhitungkan atas kepemilikan Bank Mandiri sebesar Rp 1,95 triliun, tumbuh 11,3% yoy.

Dari jajaran anak usaha Bank Mandiri, kontribusi terbesar diberikan oleh Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap). Dalam periode ini, Bank Mantap membukukan laba bersih sebesar Rp 1,18 triliun dengan Rp 607 miliar di antaranya diperhitungkan atas kepemilikan Bank Mandiri.

Meski sumbangsihnya masih jauh dari kinerja Bank Mandiri sendiri, anak-anak usaha juga berperan dalam pengembangan bisnis bank. Strategi yang dijalankan adalah mengintegrasikan anak-anak usaha ke aplikasi digital bank Livin’ by Mandiri.

“Kita masuk ke dalam anak-anak perusahaan kita di Bank Mandiri Group,” ujar Direktur Teknologi Informasi Bank Mandiri Sunarto Xie dalam paparannya belum lama ini.

Livin’ sendiri menjadi salah satu mesin pendorong kinerja bank kini, dengan total transaksi mencapai Rp 3.863 triliun atau tumbuh 20% yoy.

Ceritanya sedikit berbeda di Bank Negara Indonesia (BNI). Hingga September 2026, laba konsolidasian BNI mencapai Rp 16,11 triliun atau tumbuh 6,62% yoy.

Namun, laba bank only BNI sebenarnya mencapai Rp 16,36 triliun atau naik 7,87% yoy. Ini mengindikasi kinerja anak usaha yang justru membebani laju profitabilitas grup.

Jika ditelisik, salah satu pos pendapatan dari anak usaha memang terkoreksi, yaitu pendapatan komisi alias fee based income.

Dalam periode ini, fee based income anak usaha BNI turun 6,2% yoy menjadi Rp 311 miliar, padahal fee based income bank only tumbuh 8,6% yoy menjadi Rp 13,63 miliar. Alhasil, fee based income konsolidasian BNI cuman tumbuh 8,3% yoy.

Hal ini juga sejalan dengan catatan koreksi pada total aset anak usaha BNI sebesar 3,5% yoy menjadi Rp 60,86 triliun. Penurunan aset terdalam ditorehkan hibank, sebesar 15,3% yoy menjadi Rp 19,54 triliun. Padahal, kontribusi bank digital BNI ini mencapai 32,1% terhadap total aset grup.

Kinerja bank digital yang kontras dengan BNI tak mengherankan. Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyebut, pada dasarnya dinamika di industri perbankan saat ini memang masih penuh tantangan.

Maka dari itu, kinerja BNI lebih didorong oleh pertumbuhan bisnis inti bank, yang mana kredit dan dana murah BNI secara bank only mampu tumbuh dengan baik. “Dengan itu kami senang bisa menyampaikan pertumbuhan laba bersih yang positif,” katanya.

閱讀全文
無限制訪問Kontan以及TradingView所有其他新聞來源的文章。