Katie Price Cek Wallet Kripto Suami dan Temukan US$3 Bukan US$50 Juta
Katie Price mengungkapkan di Good Morning Britain bahwa ia telah mengakhiri pernikahannya setelah memeriksa wallet kripto milik suaminya dan hanya menemukan sekitar US$3, sementara Lee Andrews pernah menjanjikan US$50 juta.
Andrews, yang kini mendekam di penjara sipil di Uni Emirat Arab akibat utang yang belum dibayar, mengirim pesan suara dari balik tahanan untuk program tersebut. Dia mengatakan bahwa Price membuka wallet yang salah dan menegaskan uang itu memang ada.
Apa yang Ditemukan Katie Price di Wallet Kripto
Price menuturkan seorang temannya yang merupakan trader kripto membuka wallet tersebut di ponselnya saat ia berada di luar negeri. Saldo yang muncul sekitar £2,22, mendekati US$3. Ia pun memeriksa lagi beberapa menit sebelum siaran dan saldo itu tetap tidak bergerak.
Andrews tidak membantah angka tersebut. Ia menyebut saldo itu ada di wallet yang berbeda, menawarkan untuk mengirimkan US$10.000 kepada salah satu pembawa acara sebagai bukti dirinya bisa memindahkan dana, dan bahkan siap tes kebohongan setelah bebas nanti.
“Saya harap benar-benar terbukti hari Rabu nanti kalau memang ada 50 juta USDT di sana, yang telah didapatkan secara sah,” ujar Andrews di pesan suara tersebut.
USDT merupakan Tether, yaitu stablecoin yang dirancang untuk bertransaksi mendekati harga satu dolar. Ini adalah aset kripto terbesar ketiga secara nilai pasar, sehingga 50 juta unit USDT kurang lebih setara dengan US$50 juta.
Klaim lainnya juga sudah terbantahkan. Price mengaku Andrews pernah menaksir cincin pemberiannya bernilai £72.000. Namun, seorang ahli perhiasan berkata kepada Price bahwa batu yang digunakan adalah hasil laboratorium dan nilai cincinnya sekitar £5.000 saja.
Kenapa Saldo Wallet Tidak Membuktikan Kepemilikan
Siapa pun yang tahu alamat wallet bisa melihat isi wallet blockchain. Hal inilah yang memungkinkan Price membuktikan sendiri klaim tersebut tanpa harus melibatkan bank, pengacara, atau izin dari Andrews.
Hanya saja, proses itu berhenti sampai di situ. Sebuah alamat wallet hanya menunjukkan apa yang tersimpan di dalamnya, tidak mengungkap siapa pemilik private key yang dapat memindahkan dana. Mengirim pembayaran hanya membuktikan akses saat itu, bukan kepemilikan atas akun.
Pengadilan saat ini juga menghadapi area abu-abu yang sama. Tether sedang menghadapi gugatan hukum terkait wallet yang dibekukan dengan saldo US$42,4 juta. Kasus ini berpusat pada siapa yang benar-benar mengendalikan alamat dan siapa yang berhak atas dana tersebut.
“Saya merasa malu karena saya merasa dia telah mempermainkan perasaan saya dan menghancurkan kepercayaan saya,” terang Price dalam wawancara tersebut.
Price kini sudah mengajukan permohonan cerai. Sementara itu, Andrews masih ditahan akibat utang yang menurutnya sudah dilunasi dan ia berharap segera bebas. Ia belum mempublikasikan alamat wallet tersebut, sehingga belum ada cara untuk membuktikan apakah US$50 juta itu memang pernah ada di sana.