[SRIUS] Interest Risk : Yield Indonesia 10Yr dan BI 7DRR RateSRIUS : Strategi Investasi Untuk Semua 260706
Melihat panel sebelah kiri, terdapat indikasi kuat bahwa Yield Indonesia 10Yr memiliki peluang untuk terus bergerak naik, sejalan dengan tren peningkatan BI 7DRR Rate. Jika kita mengamati lebih saksama, pergerakan garis suku bunga BI ini memperlihatkan karakteristik yang menyerupai pola Bullish Reversal. Apabila kita menganggap pola teknikal ini bersifat universal dan dapat diaplikasikan pada kebijakan moneter, ada probabilitas bahwa BI 7DRR Rate masih akan terus didorong lebih tinggi. Tentu saja, realita di pasar makroekonomi tidak pernah sesederhana menarik garis tren, karena selalu ada lapisan sentimen lain yang menyertainya.
Satu hal krusial adalah pergerakan Spread Yield antara Indonesia dan AS (ID10Y-US10Y) di bagian bawah. Saat ini, Spread Yield terlihat perlahan merangkak naik dan mulai bersiap Breakout. Pergerakan yang keluar dari area rendah (sejak awal data kami muncul) mengindikasikan bahwa Yield Indonesia berpotensi melebar lebih jauh di atas Yield US 10Yr, yang pada akhirnya menuntut kompensasi risiko (risk premium) yang lebih besar.
Sementara itu, pada grafik di sebelah kanan, situasi eksternal masih menyimpan ancaman yang sebaiknya tidak diabaikan. Yield US 10Yr saat ini sedang berkonsolidasi di dalam pola Bullish Continuation. Terbentuknya pola ini membawa risiko bahwa Yield AS sedang bersiap untuk menembus batas atas dan naik lebih tinggi lagi. Ada risiko ganda dari dalam dan luar negeri yang memaksa untuk lebih defensif.
Berdasarkan analisis dari berbagai laporan pandangan pasar kuartal ketiga (Q3) 2026, berikut adalah alasan-alasan yang mendukung potensi kenaikan USD Index (DXY) dan Yield US Treasury 10-Year, serta faktor-faktor yang dapat menghambatnya:
Alasan Pendukung Kenaikan (Supporting Reasons)
1. Suku Bunga Federal Reserve yang Lebih Tinggi untuk Waktu Lama (Higher for Longer)
Inflasi yang Gigih (Sticky Inflation): Inflasi inti AS tetap di atas target 2%. Hal ini mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga tahun ini untuk menjaga kredibilitas dan mengendalikan ekspektasi inflasi.
Sikap Hawkish Fed: Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, menunjukkan kesediaan untuk menaikkan suku bunga jika pasar tenaga kerja yang kuat dan inflasi inti membenarkan tindakan tersebut.
2. Ketahanan Ekonomi AS yang Luar Biasa (Economic Resilience)
Pertumbuhan PDB: Ekonomi AS diperkirakan akan tumbuh sebesar 2,3% tahun ini, melampaui sebagian besar ekonomi maju lainnya.
Pasar Tenaga Kerja yang Kuat: Pertumbuhan lapangan kerja mencapai rata-rata 188.000 per bulan, jauh di atas tingkat yang dibutuhkan untuk menstabilkan pengangguran.
Investasi Infrastruktur AI: Siklus belanja modal (capex) AI yang masif mendukung pertumbuhan ekonomi nominal yang sangat kuat.
3. Diferensiasi Kebijakan Moneter (Policy Divergence)
Diferensial Imbal Hasil: Terdapat tekanan ke atas pada suku bunga AS, sementara suku bunga di pasar lain cenderung tetap stabil atau menurun karena pertumbuhan yang lebih lambat. Hal ini memperkuat nilai tukar USD terhadap mata uang utama lainnya.
4. Tekanan Pasokan Surat Utang Negara
Defisit Fiskal: Penerbitan utang pemerintah AS yang terus meningkat untuk mendanai defisit menciptakan tekanan pada imbal hasil obligasi jangka panjang (yield) karena investor meminta kompensasi lebih untuk memegang obligasi tersebut.
Alasan Kontra/Penghambat Kenaikan (Contrary Reasons)
1. Normalisasi Inflasi Global
Penurunan Harga Minyak: Jika harga minyak kembali normal ke level sebelum konflik, hal ini dapat menurunkan inflasi headline dan mengurangi tekanan pada Fed untuk bersikap agresif.
Pemulihan Manufaktur Global: Perbaikan luas dalam manufaktur global dapat membatasi sisi atas (upside) dolar karena pertumbuhan ekonomi menjadi lebih merata di seluruh dunia.
2. Dampak Suku Bunga pada Pertumbuhan
Risiko Resesi: Meskipun probabilitasnya dianggap rendah (10%), kenaikan suku bunga yang terlalu agresif berisiko mendinginkan pertumbuhan GDP nominal secara berlebihan dan menciptakan volatilitas pasar yang ekstrem.
Beban Utang: Suku bunga tinggi yang bertahan lama dapat menekan perusahaan yang memiliki leverage tinggi dan pemerintah yang terbebani utang, yang pada akhirnya dapat memaksa pelonggaran kebijakan.
3. Intervensi Pasar dan Valuasi
Intervensi Mata Uang: Upaya intervensi dari bank sentral lain (seperti BoJ untuk JPY) dapat menahan penguatan dolar yang terlalu tajam.
Valuasi Obligasi: Setelah kenaikan imbal hasil yang signifikan, valuasi obligasi mungkin mulai terlihat menarik, yang dapat menarik pembeli dan membatasi kenaikan yield lebih lanjut.
Obligasi Pemerintah
Weekly Macro Intermarket ReviewMarket minggu ini berada di fase selective risk-on, tetapi belum masuk full reflation. Equity masih mendapat bid, terutama Nasdaq, S&P, Russell, dan IHSG, sementara China, crypto, dan beberapa cyclicals global masih belum memberi konfirmasi penuh. Jadi struktur market lebih tepat dibaca sebagai rotasi selektif, bukan broad bull market.
Faktor utama yang masih menahan risk asset adalah real yield. US10Y berada di sekitar 4,48%, sementara 10Y TIPS masih tinggi di kisaran 2,18–2,21%. Selama real yield tetap tinggi, upside emas cenderung tidak bersih. Gold memang mulai membangun base di atas area VWAP besar, tetapi belum sepenuhnya bebas dari tekanan USD dan yield.
DXY kembali menguat ke area 101, sehingga tekanan terhadap komoditas dan FX berisiko masih ada. Namun menariknya, gold, copper, silver, dan AUDUSD masih mampu bertahan. Ini menunjukkan bahwa pasar tidak sepenuhnya risk-off. Ada demand selektif pada aset komoditas, tetapi belum didukung oleh capital commitment yang kuat.
Pada komoditas, rotasi terlihat lebih sehat di industrial metals dibanding oil. Copper dan silver relatif lebih konstruktif, sementara oil masih tertahan. Ini memberi sinyal bahwa pasar lebih membaca tema growth recovery selektif, bukan inflation shock. Untuk gold, struktur saat ini lebih mirip bullish transition daripada confirmed bullish trend, karena harga masih perlu mengonfirmasi area VWAP/resistance penting.
AUDUSD menjadi salah satu indikator penting. Pair ini mulai membaik dan bergerak di atas area value intraday, tetapi rally-nya masih rapuh karena open interest turun tajam dan posisi COT belum menunjukkan akumulasi institusional agresif. Dengan kata lain, kenaikan AUD lebih terlihat sebagai short-covering plus risk appetite, belum menjadi trend expansion penuh.
IHSG sendiri menunjukkan struktur yang cukup menarik. Index naik dengan breadth yang luas: cyclical, energy, technology, finance, property, transport, dan basic materials ikut hijau. Namun foreign masih net sell, sehingga kenaikan lebih banyak dibaca sebagai domestic absorption rally. Ini positif, tetapi belum cukup untuk menyatakan full bull market.
Kesimpulan intermarket minggu ini: market sedang mencoba membangun risk-on rotation, tetapi masih dikunci oleh kombinasi high real yield + firm USD + uneven global breadth. Selama real yield tidak naik agresif dan DXY tidak breakout kuat, rotasi masih bisa berlanjut. Tetapi untuk menjadi full bullish macro regime, market butuh konfirmasi tambahan dari penurunan real yield, pelemahan USD, kenaikan open interest, dan breadth global yang lebih sinkron.
Macro verdict:
Selective risk-on. Bullish rotation, not full reflation yet.
[SRIUS] Kebijakan Moneter : Fed Hawkish dan BI AgresifSRIUS : Strategi Investasi Untuk Semua 260619
FOMC Meeting pertama Kevin Warsh sebagai ketua The Fed mengindikasikan Warsh cenderung Hawkish, instead of Dovish, seperti harapan Trump. Warsh bahkan tidak memberikan estimasi Fed Rate di akhir tahun (berbeda dengan tradisi dari Ketua The Fed sebelumnya). Kami melihat Yield US 10Yr masih dalam Technical Correction dan Uptrend menuju 4.8% masih intact.
Untuk membatalkan Uptrend, kami ingin melihat Yield US 10Yr, TVC:US10Y ,turun di bawah 4.3%.
Sementara itu, Yield Indonesia 10Yr, TVC:ID10Y ,memang telah turun drastis dari 7.5% ke 6.9% namun Uptrend belum patah dan masih Intact sampai Yield Indonesia dapat turun di bawah 6.8%.
Perlu diwaspadai juga bahwa mulai banyak bank sentral di berbagai belahan dunia menaikkan suku bunga karena Inflasi yang naik karena harga minyak naik.
MACRO INSIGHT — WEEKLY MARKET MAP 8–14 June 2026
Market global masih bergerak dalam rezim yang kurang ideal untuk risk asset. Kombinasi US yield tinggi, real yield elevated, DXY bertahan di area psikologis 100, VIX mulai naik, dan harga energi tetap mahal membuat kondisi likuiditas global belum cukup longgar untuk mendukung broad risk-on.
Narasi utama minggu ini bukan sekadar inflasi tinggi, tetapi tekanan stagflationary: inflasi dan wage pressure masih sticky, sementara risk asset mulai menunjukkan tekanan pertumbuhan. Dalam kondisi seperti ini, pasar sering masuk ke fase “bad data is bad, good data is also bad”. Data ekonomi yang terlalu kuat memperpanjang risiko higher-for-longer, sementara data yang melemah membuka risiko growth scare.
Karena itu, pendekatan terbaik minggu ini bukan mengejar breakout secara agresif, tetapi membaca apakah pasar sedang membangun relief rally yang sehat atau hanya technical bounce di dalam rezim tekanan makro.
──────────────────────────────
GLOBAL MACRO REGIME
──────────────────────────────
Current regime:
EM Stress + Stagflationary Risk-Off
Tekanan utama datang dari beberapa sumber:
1. US Yield & Real Yield
Yield yang masih tinggi membuat discount rate tetap berat untuk asset berdurasi panjang seperti growth equity, technology, crypto, dan emerging market equity.
2. DXY Area 100
Selama DXY bertahan di sekitar 100–100.5, tekanan ke emerging market currency dan foreign flow masih tinggi. Ini membuat indeks saham EM lebih sulit membangun rally yang sustainable.
3. Sticky Wage & Inflation Pressure
Kenaikan wage growth memperkuat risiko services inflation tetap persisten. Selama wage dan inflation expectation belum turun jelas, pasar sulit melakukan pricing dovish Fed secara agresif.
4. Oil & Energy Risk
Harga energi yang masih tinggi menjaga risiko imported inflation dan memperbesar tekanan stagflationary, terutama bagi negara EM yang sensitif terhadap energi dan kurs.
5. China Liquidity Offset
China memberikan sedikit offset positif melalui peningkatan cadangan devisa, tetapi belum cukup menjadi trigger risk-on. Pasar masih perlu konfirmasi dari trade balance, credit impulse, M2, TSF, CNH, dan industrial commodity.
──────────────────────────────
CROSS-ASSET IMPLICATION
──────────────────────────────
US Dollar:
Masih menjadi instrumen kunci. Jika DXY bertahan di atas area 100 dan menembus 100.5, tekanan ke EM asset berpotensi berlanjut. Jika DXY gagal bertahan dan turun kembali, peluang relief rally meningkat.
US Treasury Yield:
Yield tetap menjadi gravity utama. Penurunan yield akan membuka ruang relief untuk equity, gold, dan crypto. Kenaikan yield lanjutan akan memperkuat tekanan risk-off.
Gold:
Gold masih punya structural tailwind dari stagflation, geopolitical risk, energy risk, dan inflation hedge demand. Namun secara tactical, gold masih tertahan oleh real yield tinggi dan USD yang kuat. Artinya, gold lebih menarik sebagai hedge / conditional setup, bukan momentum chase agresif.
Crypto:
Crypto masih sensitif terhadap global liquidity. Selama DXY dan real yield belum turun, crypto tetap berada dalam liquidity-beta pressure. Relief rally bisa terjadi, tetapi belum cukup untuk mengubah macro regime menjadi full risk-on.
Oil & Energy:
Energy tetap menjadi inflation-risk instrument. Harga oil tinggi menjaga tekanan inflasi, tetapi sektor energi tidak otomatis bullish jika market sedang risk-off. Validasi tetap harus melalui flow, volume, dan sector leadership.
Emerging Market Equity:
EM equity masih defensif selama USD kuat, yield tinggi, dan foreign flow belum stabil. Rally yang muncul lebih layak dibaca sebagai tactical relief, bukan broad accumulation phase.
──────────────────────────────
SECTOR MAP
──────────────────────────────
1. Big Cap Financials
Masih menjadi proxy utama foreign flow dan indeks. Selama foreign selling belum mereda, sektor finansial besar cenderung menjadi beban indeks. Bias: underweight / tactical only.
2. Gold & Precious Metal Proxy
Mendapat structural tailwind dari stagflation dan inflation hedge narrative. Namun tactical entry tetap harus menunggu konfirmasi dari volume, reclaim level penting, dan stabilitas makro. Bias: conditional watchlist.
3. Energy & Coal
Tetap relevan karena oil dan energy risk premium masih tinggi. Tetapi sektor ini tidak otomatis safe haven jika tekanan indeks bersifat broad-based. Bias: selective tactical only.
4. Technology & High Beta Growth
Masih paling sensitif terhadap yield dan liquidity condition. Bisa memberi rebound tajam saat relief rally, tetapi risk/reward tetap tinggi. Bias: high-risk tactical, bukan core positioning.
5. Consumer Defensive
Lebih stabil dibanding sektor high beta selama volatilitas naik. Namun upside cenderung terbatas jika daya beli dan rupiah ikut tertekan. Bias: defensive rotation candidate.
6. Infrastructure & Rate-Sensitive Sectors
Masih perlu hati-hati karena yield tinggi dan currency pressure dapat menekan sentiment. Bias: wait and confirm.
7. Commodity-Linked Sectors
Masih menarik secara tematik, terutama jika terkait inflation hedge atau supply shock. Namun confirmation tetap harus datang dari price action, flow, dan volume. Bias: selective, not broad sector buy.
──────────────────────────────
WEEKLY TRIGGER
──────────────────────────────
Fokus utama minggu ini adalah data inflasi dan ekspektasi inflasi AS, producer inflation, jobless claims, China trade data, dan China liquidity data.
Bullish Relief Scenario:
Pasar berpeluang membangun relief rally jika CPI/PPI lebih soft, inflation expectation turun, DXY reject dari area 100–100.5, US yield turun, dan EM currency stabil. Dalam skenario ini, sektor yang berpotensi memimpin rebound adalah high beta growth, selected commodity proxy, gold proxy, dan beaten-down cyclicals.
Bearish Continuation Scenario:
Tekanan berlanjut jika CPI/PPI hot, claims tetap kuat, inflation expectation naik, DXY breakout di atas 100.5, dan US yield kembali naik. Dalam skenario ini, financials, high beta growth, crypto, dan EM equity tetap rawan distribusi.
Mixed / Choppy Scenario:
Jika data campuran, pasar kemungkinan bergerak volatile sideways. Strategi terbaik adalah trading taktis, bukan swing agresif. Reclaim tanpa volume dan tanpa konfirmasi flow sebaiknya tidak dikejar.
──────────────────────────────
MARKET BEHAVIOR TO WATCH
──────────────────────────────
Yang perlu diperhatikan minggu ini:
- Apakah DXY mampu bertahan di atas 100?
- Apakah US10Y mulai turun dari area 4.5%?
- Apakah real yield mulai melemah?
- Apakah VIX tetap naik atau mulai mereda?
- Apakah oil tetap tinggi dan menjaga inflation premium?
- Apakah EM currency stabil?
- Apakah foreign flow di emerging market mulai membaik?
- Apakah market breadth membaik atau hanya beberapa saham besar yang rebound?
- Apakah volume breakout valid atau hanya low-liquidity bounce?
──────────────────────────────
EXECUTION VIEW
──────────────────────────────
Market saat ini bukan market untuk menebak bottom.
Market saat ini adalah market untuk menunggu confirmation.
Setup terbaik adalah:
macro pressure mulai mereda,
DXY/yield tidak breakout,
sector leadership muncul,
volume mengembang,
dan harga mampu reclaim level penting lalu bertahan saat retest.
Untuk trading jangka pendek, hindari entry terlalu awal saat market open. Konfirmasi arah lebih sehat setelah volatilitas awal mereda. Breakout yang valid harus disertai volume expansion dan tidak boleh hanya didorong oleh spike tipis tanpa follow-through.
Dalam rezim seperti ini, cash adalah posisi aktif. Tidak mengambil trade saat macro gate belum mendukung adalah bagian dari risk management, bukan kehilangan peluang.
──────────────────────────────
FINAL VIEW
──────────────────────────────
Macro regime minggu ini masih defensive.
Risk-on belum terkonfirmasi.
Broad aggressive long belum ideal.
Selective tactical trading masih memungkinkan.
Gold proxy dan commodity-linked sectors punya structural tailwind, tetapi tetap conditional.
High beta dan crypto bisa rebound tajam, namun masih sangat tergantung pada DXY dan yield.
Financials tetap menjadi kunci konfirmasi indeks.
Energy tetap relevan, tetapi tidak boleh dibeli secara sektoral tanpa flow confirmation.
Final bias:
Neutral to Bearish, with conditional relief potential.
Preferred approach:
Cash-heavy, selective, tactical, confirmation-based.
Main trigger:
US inflation data, DXY reaction, yield direction, and EM currency stability.
Market mode:
Watchlist first, execution later.
[SRIUS] Indo Bond Yield : Short Term Yield Melanjutkan Tren NaikSRIUS : Strategi Investasi Untuk Semua 260606
Kenaikan Yield Indonesia 1Yr, 3Yr dan 5Yr membentuk Higher High dari sejak November 2025 mengindikasikan Investor khawatir akan kondisi ekonomi Indonesia dan juga mengindikasikan ekspektasi kenaikan suku bunga (BI 7DRR Rate) dalam waktu dekat.
BI 7DRR Rate sempat naik 0.5% menjadi 5.25% di pertengahan bulan Mei 2026 dan sempat diasumsikan kenaikan tersebut hanya temporari untuk menjaga Rupiah. Namun apabila ternyata inflasi bulan Mei 2026 pun naik (dari 2.42% YoY menjadi 3.08% YoY dan baru terlihat di awal Juni 2026) maka tentu BI akan dianggap wajar untuk menaikkan suku bunga kembali di Rapat Dewan Gubernur BI mid Juni 2026 atau Juli 2026.
Yield Indonesia 10Yr, 15Yr dan 20Yr masih Sideways namun ketiganya membentuk pola yang mirip dengan Ascending Triangle (Bullish Continuation) dimana masih ada kemungkinan besar Yield Jangka Panjang melanjutkan kenaikannya dari sejak Oktober 2025 lalu.
Teknikal Pasar Obligasi AS: Konvergensi Yield Menuju Target 5%Jika kita perhatikan pergerakan yield obligasi 5 tahun AS sejak awal 2022, terlihat jelas betapa agresifnya transisi pasar dari rezim suku bunga rendah menuju level yang lebih restriktif. Namun, setelah mencapai puncaknya di atas 4.6%, pasar mulai memasuki fase "kontemplasi". Secara teknis instrumen ini terjebak dalam pola Symmetrical Triangle yang sangat simetris. Pola ini mencerminkan sebuah kebuntuan antara para pelaku pasar yang bertaruh pada normalisasi ekonomi dan mereka yang masih khawatir akan inflasi yang persisten. Setiap kali yield mencoba merangkak naik, ia dipukul mundur oleh resistance yang semakin merendah (garis tren atas), namun di sisi lain, setiap pelemahan selalu tertahan oleh lantai support yang terus meninggi (garis tren bawah).
Kondisi per April 2026 ini menunjukkan bahwa ruang gerak harga sudah semakin sempit, atau yang biasa kami sebut sebagai fase apex, penyempitan volatilitas seperti ini adalah "ketenangan sebelum badai" pasar sedang mengumpulkan momentum untuk sebuah ledakan arah baru. Secara teknis, symmetrical triangle memiliki bias continuation, visualisasi garis biru dalam analisis ini memberikan sinyal kelanjutan optimis bagi para bond bears (yang mengharapkan yield untuk tetap naik). Proyeksinya cukup ambisius: jika yield mampu menembus hambatan psikologis di kisaran 4.1%, maka pintu menuju level 5% akan terbuka lebar.
Meskipun target jangka panjang dipetakan hingga ke level 6.5%, pergerakan ini sangat bergantung pada narasi makro yang berkembang. Jika breakout ke atas benar-benar terkonfirmasi, itu adalah sinyal kuat bahwa pasar berekspektasi ekonomi akan tetap panas untuk waktu yang lebih lama. Sebaliknya, jika garis support di bawah jebol, maka seluruh skenario kenaikan ini harus segera direvisi. Untuk saat ini, strategi yang paling bijak adalah membiarkan pasar menentukan pilihannya terlebih dahulu menunggu konfirmasi penutupan harga di luar garis segitiga tersebut.
SRIUS : Yield Indonesia 10Yr Menuju 6.6%SRIUS : Strategi Investasi Untuk Semua 260210
TVC:ID10Y telah Breakout Resistance di 6.3% dan sebelumnya terbentuk Failure Swing (gagal membentuk Lower Low dari sejak awal tahun 2025) antara 5.92% dan 6.08%.
Yield berpotensi naik menuju 6.6% yang merupakan salah satu Lower High.
Namun perlu diingat bahwa saat ini Indonesia sedang dalam Cut Rate Cycle dimana BI 7DRR Rate (4.75%) diperkirakan turun menuju 4.25% atau 2x Cut di tahun 2026 ini.
Cut Rate Cycle sangat mungkin untuk mendorong Yield turun.
--
Perhatian!
Kami tidak memantau perkembangan pergerakan aset ini sehingga kami sangat mungkin akan telat untuk Menutup Posisi. Kami memang tidak memberikan rekomendasi. Apa yang kami sampaikan adalah analisis serta kontrol internal dan bukan ditulis untuk diikuti.
The Great Divergence: Apakah Kita Sedang Di Ujung Tanduk?Sejarah sering kali tidak terulang persis, tapi ia sering kali berirama. Mari kita bedah anomali besar yang sedang terjadi di pasar global dan domestik per Januari 2026.
Sinyal "Un-Inverting" yang Menakutkan 🌀Perhatikan garis biru (US10Y-US02Y). Secara historis, krisis (2001 & 2008) justru meledak saat kurva ini kembali ke area positif setelah lama terbalik. Saat ini, spread sudah berada di +0,705%. Apakah ini "fase tenang" sebelum badai likuiditas menghantam?
Retaknya Fondasi Tenaga Kerja (UNRATE$) 👷♂️Tingkat pengangguran AS (UNRATE$) diam-diam merangkak naik ke 4,4%. Dalam kacamata ekonomi makro, setiap kali garis oranye ini menanjak tajam bersamaan dengan un-inverting yield, resesi sektor riil biasanya tidak jauh lagi.
Euforia "Final Blow-off Top" 🚀Meskipun indikator makro berkedip merah, pasar saham (SPX & IHSG) justru terus mencetak rekor baru (IHSG menembus 9.000).
Ini adalah fenomena klasik di mana psikologi pasar (FOMO) benar-benar terputus dari realitas fundamen ekonomi.Pertanyaan untuk Diskusi:
Apakah kenaikan IHSG ke level 9.000 ini didorong oleh pertumbuhan riil, atau sekadar likuiditas terakhir yang mencari pintu keluar?
Seberapa besar "delay" yang kita miliki sebelum kenaikan pengangguran memicu margin call masif secara global?
Bagaimana rencana proteksi portofolio kalian? Apakah sudah mulai menumpuk cash atau masih berani "haka"?
SRIUS : Yield ID 10Yr Naik Sebagai Technical ReboundSRIUS : Yield ID 10Yr Naik Sebagai Technical Rebound
SRIUS : Strategi Investasi Untuk Semua 251112
Kenaikan Yield Indonesia 10Yr atau TVC:ID10Y dari sejak mid Okt'25 di 5.9% terindikasi sebagai Technical Rebound yang belum mengganggu Downtrend yang tengah terjadi. Bullish di pasar obligasi masih utuh sampai maksimal di 6.3%. Kenaikan Yield di atas level tersebut dapat mematahkan tren penurunan Yield dan membuka peluang Yield memasuki tren kenaikan (Bearish Market pada pasar obligasi).
Kami melihat Yield masih berpeluang naik sedikit mendekati 6.2% - 6.3% sebelum kembali turun menuju 5.9% lagi.
Salah satu katalis utama adalah Cut Rate Cycle di tahun 2026 akan kembali berlanjut.
Kami setuju dengan para Ekonom bahwa masih ada ruang bagi The Fed (AS) dan Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga di tahun 2026.
US 10 Y akan Breakout bearish Trendline?salah satu Instrument Finansial yang paling sensitif dan menurut saya merupakan Leading Indikator terhadap perubahan suku bunga atau keputusan the FED adalah Bond Yield nya Amerika.Jika dilihat dari chart TF Daily ini terjadi kenaikan yang cukup signifikan di beberapa hari ini,apabila terjadi breakout dari bearish trendlinenya apakah ada kemungkinan besar The FED akan mempertahan atau malah menaikkan suku bunga?
Yield SUN 10Yr Breakout 6.38% Bukan Pertanda BaikYield SUN 10Yr Breakout Resistance dari Down Trendline di 6.38% dan hal ini menandakan akhir dari Downtrend dari sejak Oktober 2022. Akhir dari Downtrend berarti Bullish di pasar obligasi akan berakhir dan Bearish mungkin akan segera dimulai.
Masih ada harapan untuk tetap Bullish selama Yield tidak melewati level Resistance dari High di April 2022 yaitu di rentang 6.46% - 6.55%. Apabila terjadi Breakout Resistance tersebut, Yield berpotensi terus naik sampai Resistance berikut di 7%. Kenaikan menuju 7% akan membuat harga SUN turun lebih dalam.
Let's see.
SRIUS : Aset Paling Aman Di Dunia Kembali Diincar InvestorSRIUS : Aset Paling Aman Di Dunia Kembali Diincar Investor
SRIUS : Strategi Investasi Untuk Semua 251016
Obligasi negara AS alias US Treasury dianggap sebagai surat berharga yang paling aman di dunia keuangan. Investornya bukan hanya manusia dan perusahaan tapi juga negara.
Sejak awal tahun 2025, Yield US Treasury dengan tenor 10Yr ( TVC:US10Y ) terus turun yang artinya harga obligasinya naik terus. Dengan kata lain, Investor banyak membeli obligasi tersebut.
Padahal, Yield US Treasury 10Yr sedang dalam tren naik dari sejak tahun 2020 dari level 0.36% menjadi 4.02% (saat ini). Bahkan di pertengahan 2023, Yield sempat berada di level 5.021%.
Sejak jangka panjang, 3 - 5 tahun ke depan, kami masih melihat Yield US 10Yr masih daalm tren naik menuju 5% bahkan sampai 5.29% (Highest sejak Juni 2007) yang berarti Investor sedang membuang obligasi AS. Namun untuk jangka pendek, ada kemungkinan Yield sedang turun menuju 3.86% dari level 4.02% saat ini. Dilalah, penurunan saat ini membatalkan Up Trendline yang kami tarik dari sejak 2H22 yang berarti ada potensi tren jangka panjang menuju 5% BATAL. Namun kami akan terus pantau terutama ketika nanti Yield berada di level 3.8% tersebut.
Implikasi dari penurunan Yield US 10Yr adalah bahwa Investor kembali membeli aset ini dan menghindari aset - aset lain yang berisiko. Dengan kata lain, penurunan Yield US 10Yr bisa menjadi tanda bahwa Investor khawatir dengan kondisi ekonomi sehingga membeli surat berharga teraman di dunia (sampai saat ini).
Kalau kita cocokan dengan penurunan suku bunga (baik dari AS maupun di negara - negara lain seperti Indonesia), ekonomi global terancam resesi sehingga perlu dukungan moneter yaitu suku bunga rendah. Apabila tidak ada dukungan moneter, mungkin banyak negara akan memasuki Resesi ekonomi.
Nah, penurunan Yield US 10Yr ini juga sedikit banyak mencerminkan kekhawatiran Investor terhadap Resesi sehingga mereka menjual aset saham dan membeli aset ini.
Tapi tentu ceritanya akan berbeda dan kami masih sedang mengamati dari pergerakan jangka pendek.
We'll see.
Divergence RSI pada IHSG dan Yield Indonesia 10YrPada IDX:COMPOSITE , kami melihat adanya Bearish Divergence pada RSI 14.
Di saat IHSG terus membentuk All Time High, RSI 14 yang awalnya di level 80, saat ini di level 70an.
Untuk TVC:ID10Y , kami melihat adanya Bullish Divergence pada RSI 14 yang mengindikasikan Yield dapat naik (yang berarti Bearish pada aset Obligasi).
Di saat Yield sebenarnya Rebound dari level yang sama di 6.3% (Support), RSI 14 membentuk level yang lebih tinggi (30 vs 40). Yield yang Rebound dari level Support di 6.3% pun dapat diindikasikan sebagai pola Bullish Reversal Pattern (Double Bottom?).
Memasuki Oktober 2025, rasanya akan kurang bagus untuk pasar modal.
ID10Y Berada di Area Kritis, Bagaimana Proyeksi ke Depannya?Dalam timeframe weekly , ID10Y saat ini masih berada di area kritis. Area kritis di sini adalah neckline dari pola cup & handle yang berada di level 7.2%. Jika level tersebut berhasil ditembus dan ID10Y berkonsolidasi sehat di atasnya, terbuka ruang kenaikan yang lebih tinggi lagi. Penembusan tersebut juga mengkonfirmasi pola CnH yang ada. Konfirmasi pola inverted cup and handle membuka ruang untuk tren naik yang cukup tajam
Target teknikal berdasarkan Fibonacci, ID10Y bisa menuju 7.5% – 7.8%. Namun jika melihat target minimal dari pola (panah hitam), ID10Y berpotensi menuju 8.215%. Dengan begitu range kenaikan berada di level 7.8% - 8.215% (kotak hijau). Range tersebut juga merupakan upper band standar deviasi +3 dari tren sejak 2014. Support kuat terlihat di area 6,2% – 6,5%, yang menahan yield selama beberapa tahun terakhir.
Ingat, yield naik berarti harga bond turun. Lalu apa kira-kira penyebab ID10Y naik? beberapa kemungkinan diantaranya adalah
Ketidakpastian Fiskal & Defisit Anggaran: Jika pasar melihat bahwa APBN Indonesia berpotensi melebar defisitnya atau tidak disiplin fiskal (misalnya karena belanja subsidi, bansos, Makan Bergizi Gratis, atau kurangnya pendapatan pajak), maka risiko fiskal naik → yield obligasi naik untuk mengkompensasi risiko tersebut.
Kenaikan Risiko Global / Outflow Asing: Yield US Treasury naik → investor asing keluar dari SBN → harga turun → yield naik. Ketegangan geopolitik atau kekhawatiran terhadap stabilitas USD juga bisa berdampak pada pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Ekspektasi Inflasi Domestik: Jika ada tekanan inflasi dari harga pangan, energi, atau depresiasi rupiah → investor menuntut imbal hasil lebih tinggi. Yield naik sebagai kompensasi atas potensi kehilangan daya beli.
Pelemahan Rupiah: Investor akan meminta yield lebih tinggi jika nilai tukar rupiah berpotensi melemah, untuk menutup risiko kurs. Ini sering kali terjadi saat dolar AS menguat tajam atau ketika Bank Indonesia terlihat tertahan dalam menaikkan suku bunga.
Kurangnya Daya Tarik Real Yield : Jika suku bunga riil (nominal - inflasi) makin tipis, investor asing bisa mencari alternatif lain, memaksa Indonesia menawarkan yield lebih tinggi untuk menarik minat beli.
Jika level 7,2% berhasil ditembus, ada kemungkinan besar yield naik ke level 8%, terutama jika:
Ada gejolak global yang memicu capital outflow dari pasar obligasi emerging markets .
Ketidakpastian fiskal memburuk, misalnya wacana stimulus besar tanpa pendanaan jelas.
BI tidak segera menaikkan suku bunga sementara inflasi dan USD naik.
Sebaliknya, jika pemerintah dan BI bisa jaga kepercayaan fiskal & moneter dengan baik, pola ini bisa gagal dan yield akan kembali stabil di bawah 7%.
Apakah berpengaruh ke pasar saham? Tentu. Pasar saham akan mengalami derating .
Rumus simpel valuasi saham adalah dengan mencari present value dari cash flow (CF) di masa depan. CF tersebut didiskontokan menggunakan rate .
PV = CF/r
Discount Rate (Cost of Equity) = Risk-Free Rate + Equity Risk Premium × Beta
Risk-Free Rate : Biasanya pakai yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun (misal: FR series).
Equity Risk Premium (ERP): Tambahan kompensasi risiko dari saham dibanding obligasi.
Beta: Sensitivitas saham terhadap pasar.
Apa yang Terjadi Kalau Yield Naik?
Risk-Free Rate Naik → Langsung menaikkan discount rate , karena jadi lebih mahal untuk mendiskon arus kas di masa depan.
DCF Value Turun → Karena arus kas yang sama didiskon dengan rate lebih tinggi, maka NPV (valuasi saham) jadi lebih kecil.
Tekanan Khusus untuk Saham Growth → Growth stocks (yang cashflow -nya banyak di masa depan) paling kena dampaknya.
Asumsikan sebuah perusahaan menghasilkan CF sebesar Rp 100 setiap tahun.
Jika r = 7%, PV = ~1429
Tapi jika r naik menjadi 8.2%, maka PV = ~1220
Valuasinya turun sekitar 15%.
Jadi apakah IHSG makin suram? Bagaimana menurut kamu?
US03MY, Sebuah Indikator "Leading" untuk FFR (Fed Rate)Penentuan suku bunga oleh The Fed biasanya dilakukan saat FOMC ( Federal Open Market Committee ) meeting . FOMC selanjutnya bakal dilaksanakan hari Kamis tanggal 8 Mei jam 1 dini hari WIB atau sekitar 29 hari lagi.
Lalu kira-kira, The Fed bakal potong suku bunga gak ya?🤔
Nah cara gampang untuk liat apakah bakal cut atau hold adalah dengan melihat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah US bertenor 3 bulan. Kode di TradingView adalah US03MY. Biasanya yield tersebut leading sekitar 1 hingga 2 bulan sebelum pemotongan terjadi. Kalau dilihat dari data terakhir, suku bunga Fed masih berpeluang ditahan (FFR: 4.330% vs US03MY: 4.307%).
Kemudian coba kita bandingkan dengan data dari CME FedWatch Tool , yang menunjukkan the likelihood that the Fed will change the Federal target rate at upcoming FOMC meetings, according to interest rate traders . Terlihat terdapat probabilitas 74.1% Fed akan menahan suku bunga. Tidak jauh berbeda dengan US03MY bukan?
Jadi jika ingin tahu proyeksi FFR ke depannya, bisa cek US03MY aja di Tradingview
ID10Y: cenderung turun ke arah 6,85-6,75- Setelah terjadi rejection kuat dari trendline pola sejak Oct2018, yield SUN benchmark tenor 10 tahun cenderung turun ke arah 6,85-6,75.
- Area 6,85-6,75 ini adalah area support trendline pola upchannel Aug2024-Apr2025.
- Jika yield masih alami penurunan hingga kebawah level 6,85-6,75 ini, maka selanjutnya potensi penurunan ke 6,55-6,4.
- Sentimen akan berbalik arah jika terjadi kenaikan yield diatas 7,1 bahkan diatas 7,32.
M. Alfatih, CFTe, CTA, CTAD, CSA, CIB
Samuel Sekuritas
ID10Y-US10Y: Selisih yield SUN vs UST mengecil- Yield spread antara Obligasi SUN vs US Treasury tenor 10 tahun cenderung mengecil setelah terjadi rejection dari resistance 3.109, jarak yield terbesar sejak Mei2023.
- Kecenderungan ini menunjukkan potensi lebih cepatnya yield SUN turun dibanding UST, dalam beberapa minggu yang akan datang.
- Selisih yield SUN vs UST dalam dua tahun terakhir sebenarnya cenderung flat antara 2.2-3.1.
- Sentimen positif untuk Obligasi Indonesia ini, akan terancam jika spread naik di atas 3.109.
M. Alfatih
Technical Trading Course
star.id
US10Y: Pola Head & Shoulders- Yield US Treasury (US10Y) sejak Aug2024-Apr2025 membentuk pola Head & Shoulders.
- Penurunan mempunyai target penurunan teoritis ke sekitar 3.6%, dengan kemungkinan pullback jangka pendek ke 4.15%.
- Arah selanjutnya tergantung reaksi market di 3.6% atau di 4.15%. Jika market tembus ke bawah 3.6%, maka kemungkinan penurunan selanjutnya ke 3.43%
US 10year bond created new high ? dilihat dari structure US BOND telah membuat New High, lepas dari fase down trendnya yg sangat lama. akan kah ini signal pertanda adanya kenaikan suku bunga US yg berimbas kepada seluruh ekonomi global ?
-hanya analisa pribadi, silahkan kaji ulang sesuai analisis masing-masing
Inflasi US terjaga, Suku Bunga Menurun - US 10YJika US 10Y mampu membentuk lower high kembali maka potensi melanjutkan penurunan setidaknya menuju moving averagenya dan jangka panjang turun hingga 1,7% saja.
Akankah kebijakan suku bunga murah era kepemimpinan trump menarik untuk inflasi dan suku bunga.
ANALISIS US YIELD 10 YEARSUS 10Y saat ini mengalami pelemahan dikarenakan data inflasi US yang cenderung menurun. Jika secara teknikal, terdapat celah (GAP) pada chart US 10Y di tanggal 25 September 2023 hal ini terlihat jelas pada time frame 4H. Maka, besar kemungkinan dalam waktu dekat celah Yield di 4.43% - 4.45% ini akan tertutup.
US10YImbal hasil (yield) obligasi Treasury AS bertenor 10-tahun naik melampaui angka 4,3%, mendekati level tertinggi dalam 15-tahun sebesar 4,34% yang dicapai pada tanggal 22 Agustus karena bukti lebih lanjut mengenai ketahanan perekonomian AS memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan biaya pinjaman membatasi untuk jangka waktu yang lama. Inflasi produsen di Amerika Serikat jauh melampaui ekspektasi pada bulan Agustus, sehingga memperbesar laporan CPI yang lebih tinggi dari perkiraan sehingga menghapus persepsi disinflasi bulan lalu. Selain itu, penjualan ritel yang kuat menggarisbawahi ketahanan konsumen, dan klaim pengangguran mendekati posisi terendah dalam beberapa bulan sehingga mengkonsolidasikan ketatnya pasar tenaga kerja. Akibatnya, pasar keuangan menunjukkan konsensus luas bahwa Federal Reserve tidak akan menghentikan siklus pengetatan bulan ini. Secara historis, Obligasi Pemerintah Amerika Serikat 10Y mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 15,82 pada bulan September 1981.
(Hallo gaess... Untuk enter saya mohon silahkan untuk di petakan sendiri ya karena itu strategi masing-masing dan Harap diperhatikan bahwa ini hanya sebatas skenario/map saja jadi utamakan ilmu pengetahuan yang anda miliki karena itu penting dan jangan lupa gunakan Ocscilator kesayangan anda untuk memperoleh informasi .
Best regard
Disclaimer on)
Tanda Market Crash pada Spread Yield US 10Yr dengan 2Yr?Halo Investor dan Trader,
Spread Yield adalah selisih antara Yield Obligasi. MMD menampilkan chart Spread Yield dari Yield US Treasury 10Yr dengan Yield US Treasury 2Yr. Selisih tenor ini seringkali digunakan untuk memprediksi apakah terjadi Resesi di AS atau tidak.
Berdasarkan histori, ketika Spread Yield keluar dari area negatif ke area positif, 3 - 6 bulan kemudian TVC:SPX mengalami Crash!
So far, Spread Yield masih di area negatif yang cukup dalam (lebih dalam dari krisis AS tahun 1989 dan 2000).
Nah, masalahanya, MMD melihat ada indikasi AKHIR dari tren penurunan Spread Yield dari sejak 2021. Artinya adalah Spread Yield berpotensi naik dari level -1.08% dan menuju -0.4%. Setelah itu Spread Yield akan naik terus menuju area positif. ~6 bulan kemudian, bila History Repeats Itself again, S&P500 akan Crash.
Well, let see di tahun 2024.






















